Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 05 Oktober 2013

Rahasia Kehidupan

Ketika dunia tak mampu menahan dusta manusia.
Misteri biarlah tetap menjadi misteri...
Tak seharusnya sebuah rahasia perlu tuk di ungkapkan...
Karena rahasia-NYA lah yg hakiki...
Kita hnya perlu tuk memahaminya,tak perlu tuk mengetahuinya...
"Rahasia Kehidupan"
»»  READMORE...

Kamis, 05 April 2012

Memperagakan Kedahsyatan Mustika Mirah Delima

merah delima
merah delima
Se
lama ini telinga kita sering kali mendengar kisah-kisah tentang kehebatan Mustika Mirah Delima, yang katanya harganya bisa mencapai milyaran rupiah ini. Tentu saja bila batu mustika Mirah Delima asli. Cara mengetahui keasliannya, bila batu  dimasukkan ke dalam air bisa tembus cahayanya hingga beberapa gelas. Semakin banyak gelas yang terkena bias warna merahnya, maka diyakini semakin ampuh tuah sang batu, dan tentunya harganya pun semakin terdongkrak.
Mendengar hal seperti ini Kanjeng Djoko tersenyum. “Kalau seperti itu sih mudah, Mas Gun. Mustika Mirah Delima itu bisa diperagakan jauh lebih hanya sekedar begituan,” katanya. Ia pun mengajak Misteri memperagakan keaslian Mirah Delima.
Waktu peragaan mustika Mirah Delima pun akhirnya tiba. Misteri datang bersama beberapa teman, namun oleh Khanjeng Djoko, hanya Misteri sendiri yang diperbolehkan masuk ke ruang khususnya, yang disebut Gedong Pusoko, untuk melihat langsung peristiwa ini.
Dari kalung simbol keraton yang selalu dikenakan Khanjeng Djoko, bandulnya yang berlogo keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebesar telur bebek itu dibuka.
“Nah, kebetulan Mirah Delima ini sedang pulang. Biasanya akan kembali ke Gunung Lawu,” jelas Khanjeng Djoko sambil memperlihatkan Mirah Delima yang hanya sebesar biji kedelai, tanpa diikat apapun.
Pertama, ia mengambil gelas berisi air putih. Batu Mirah Delima itu kemudian dimasukkan ke dalam gelas tersebut. Lalu Khanjeng Djoko meditasi untuk berkonsantrasi dialog dengan khodam batu tersebut. Tak lama kemudian terjadi keganjilan, batu itu tiba-tiba seperti zat warna yang terkena air memendar, dan tahu-tahu warna merah naik ke atas dan melingkar, terlihat seperti bendera merah putih.
Selanjutnya, Khanjeng Djoko memerintahkan agar khodam mustika Mirah Delima itu untuk merubah warna, yakni bening, merah, bening dan merah. Ya, air dalam gelas berubah seseuai dengan perintang Khanjeng Djoko.
Misteri terbelalak. Sebuah benda mati seakan-akan mampu hidup menggerakkan atsmanya, benda ini akan mensenyawai pemiliknya dan diperintahkan berbentuk apapun akan terwujud.
Bukan hanya itu, peragaan dilanjutkan. Misteri diminta untuk memegang mustika Mirah Delima Khanjeng Djoko, lalu sang empunya benda langka ini berkata, “Bila tersentuh tangan manusia, hanya 5 menit saja paling lama, bentuk materi mustika ini akan berubah menjadi de-materi.”
Dan itu benar. Setelah berada di atas telapak tangan Misteri, 5 menit kemudian mustika Mirah Delima itu tiba-tiba berubah menjadi semacam asap, dan seluruh ruangan Gedong Pusoko Khanjeng Djoko berubah jadi merah semua. Lalu warna merah itu lama-lama hilang dan berbentuk batu Mirah Delima lagi yang hanya sebesar biji kedelai.
Kepada Misteri, Khanjeng Djoko mengatakan kalau mustika Mirah Delima ini sejatinya adalah putra Prabu Brawijaya VII, atau Brawijaya Pamungkas, yang lahir dari garwa ampilan atau selir saat dalam pelarian dari Majapahit menuju ke Gunung Lawu. Sayangnya, bayi dalam kandungan ini lahir sebelum waktunya atau orang Jawa bilang ‘keguguran’. Makanya oleh Prabu Brawijaya Pamungkas yang waskita ing batin diberi nama Raden Segugur atau sering disebut saja Raden Gugur. Dia juga yang disebut sebagai Khanjeng Sunan Lawu Bagus, yang juga memiliki nama Khanjeng Kyai Paser Dewo Geni. Demikian, khodam di mustika Mirah Delima ini juga bernama Khanjeng Kyai Paser Dewo Geni.
Meski Cuma sebesar biji kedelai, seorang paranormal dari negeri Jiran pernah menawar dengan mas kawin Rp. 5 milyar.
“Mustika seperti ini tidak bisa diperdagangkan. Percuma, akan mokswa,” jelas Khanjeng Djoko.
Bukan Mustika Mirah Delima saja yang diperagakan olehnya. Ada lagi mustika Wesi Kuning. Besarnya hanya sejarum bundel. “Ini juga datang dan pergi. Hakikatnya Wesi Kuning ini adalah isterinya Mustika Mirah Delima, ia adalah Ratu Makhluk Halus yang berkedaton di Goa Ketonggo yang bergelar Kyai Ratu Saloko Domas.
“Khasiatnya untuk kebal senjata apapun!” tegas Khanjeng Djoko.
Satu lagi, berupa Lulang Bo Landoh. Kalau Lulang Bo Landoh ini tak pernah meninggalkan kalung yang dikenakan Khanjeng Djoko.
“Kalau Lulang Bo Landoh ini semua kelemahannya bila ditusuk oleh pisau milik penjual getuk (singkong) maka akan tembus dan ngebardaya perbawanya,” jelas Khanjeng Djoko.
Konon, menurut kisahnya setelah orang Landoh mendapat warisan pusaka Lulang Kebo Landoh milik tokoh desa tersebut yang mati, lalu kulitnya dijadikan jimat, mereka menjadi sombong dan takabur. Maka ada orang suci menyamar sebagai penjual getuk. Orang tua ini dihina dan diajak taruhan, bila pisaunya dapat merobek kulit orang Landoh.
Yang membedakan batu Mirah Delima dengan mustika Merah Delima salah satunya menurut kitab kuno Selo Pepelikan adalah dikatakan bahwa batu Mirah Delima yang tulen (asli) berwarna merah seperti buah delima. Dan bisa jadi bila mustika batu tersebut sudah pernah jadi milik orang lain yang Linuwih, seperti Raja Gung Binathara, orang-orang suci semacam Wali, Aulia, dll.
Cara praktis untuk menguji keaslian batu yang mustika, bagi orang awam cukup dimasukkan dalam gelas akan memancarkan warna semburat kemerahan. Khasiat secara umum, adalah: ora tedas tapak palune padde (kebal), yang memiliki akan ditinggikan derajatnya.
Sayangnya, mustika Mirah Delima ini bisa hilang dengan sendirinya kalau yang merawat gegabah, kotor serta memiliki niat yang buruk, suka zinah dan sebagainya.
Mustika Mirah Delima kabarnya juga bisa digunakan untuk mengobati laki-laki yang cepat keluar maninya bila beradegan ranjang atau lemah syahwat. Caranya, batu Mirah Delima dimasukkan ke dalam gelas berisi air putih dan dicampur dengan bunga Camelia, lalu direndam selama 5 menit. Airnya kemudian diminum.
Sedang bila yang digunakan hanya batu Mirah Delima (bukan mustika) yang diembani emas perendamnya sekitar 1 jam. Dengan cara ini  air mani akan lama keluarnya. Apalagi minumnya teratur setiap jam 5 pagi, akan sangat baik hasilnya.
Menurut sejarah gaib, awal terciptanya Mirah Delima dari pusarnya Shang Hyang Wisnu yang tumbuh bunga  tunjung (teratai). Dari tunjung inilah keluar Shang Hyang Brama, yang kemudian menciptakan jagad raya dengan segala isinya.
Yang perlu diwedar disini kata ‘puser’ yang secara arti harfiah adalah udel (pusar), tetapi yang sebenarnya adalah inti (teleng), lajer (pokok), baku, tuk (sumber), atau babon (induk). Bunga Tunjung, ya, teratai yang juga disebut Taratya, padma, sinjanu, sarasedya, surajaweh, samawi dan kumuda, yang semua itu merupakan rangkaian terjadinya pralampitaning gesang (perlambang hidup).
Dari sinilah Hyang Brama merupakan perlambang Makartining Gesang. Sedang Shang Hyang Wisnu kemudian bergelar Padmanaba atau Pusar Bunga Teratai, yang berarti membuahkan kehidupan (Makartining Gesang). Loro-ning-atunggal (dua tapi satu) senyatanya hidup ada di rasa karena hidup. Ibaratnya madu dan manisnya, matahari dan sinarnya.
Menurut legenda di Sri Lanka, batu Mirah Delima atau Ruby tergolong pada corundum minerals (korund), kerasnya 9, B.J 3.99-4.0. Kata Ruby mulanya berasal dari kata latin ‘ruber’ yang berarti merah. Jika disinarkan dengan cahaya 1 watt ultraviolet akan bercahaya pijar. Jika dipanaskan sampai 1000 celcius, karena terbentuknya batu ini memilih tempat tepat lurus garis lini, yang disebut Aquator atau khatulistiwa. Dan batu Mirah Delima paling banyak ditemukan di tanah Fir’aun (Mesir) dan sekitarnya di Benua Hitam, Afrika.
Mirah Delima senyatanya memang tersusun mengandung zatnya Sang Bagaskara (matahari) yang sangat banyak, sebab terjadinya selalu disinari oleh Shang Hyang Sewangkara, sebab memang tempatnya di Equator. Tergolong selo pepelikan yang keras, hanya di bawah intan.
Kembali legenda Sri Lanka, beberapa kilometer dari bukit karang yang setelah bercabang-cabang menjadi sungai-sungai kecil. Sungai itu kemudian membasahi ladang-ladang di wilayah Amaole, sehingga daerah ini menjadi subur makmur. Suatu hari Bathara Syiwa menyeberangi sungai kecil yang berair jernih ini, sayang tangannya tergores batu karang hingga berdarah. Titik –titik darah ini jatuh di atas pasir-pasir di tepi kali dan menjadi batu Mirah Delima.
Di bumi Nusantara, khususnya Jawa dan Bali, mustika Mirah Delima banyak ditemukan di bekas reruntuhan keraton, umpamanya bekas keraton Majapahit. Keraton pelarian Brawijaya Gunung Lawu (Argo Dumilah) seperti milik Khanjeng Djoko di atas. Khasiatnya bisa digunakan untuk menyembuhkan sakit parah, muntah darah, penyakit yang berasal dari Black Magic, dll. Sebagai pepeling (peringatan/warning leluhur) jangan memakai batu yang retak-retak, buruk efeknya.
Meski tidak mendapatkan mustika Mirah Delima, batu Mirah Delima (Ruby) biasapun menurtu kepercayaan akan memilki khasiat/dorongan aura pemiliknya, yakni: dapat membawa kebahagiaan dalam asmara, menyembuhkan penyakit lemah syahwat (seperti tersebut di atas), membuat pemakai tambah kuat dan bergaya, melindungi diri dari racun dan segala niat jahat (warna berubah-ubah jika ada bahaya), memperluas pergaulan, menghindarkan hujan dan angin ribut, dan bertuah untuk melindungi harta kekayaan. Wallahu A’lamu Bisshawab…!
»»  READMORE...

Punya Aji Pancasona, Makamnya Digantung

aji pancasona
aji pancasona
Semasa hidupnya, orang yang dimakamkan ditempat ini dikenal sebagai tokoh sufi. Pasalnya, tokoh ini menguasai ilmu langka yang bernama Aji Pancasona. Yakni sebuah ilmu yang dapat hidup kembali ketika mati. Dengan catatan, asal menyentuh tanah. Karena itu, agar tidak hidup kembali, saat meninggal, kemudian makamnya digantung.
Di jalan Melati, Blitar, Jawa Timur, ada sebuah makam tua yang lebih dikenal dengan nama makam Gantung. Predikat yang melekat pada makam tua ini, sangat singkron dengan kondisi makam tersebut.
Pasalnya, makam ini memang dalam posisi tidak menyentuh tanah. Karena itu, masyarakat Blitar menyebutnya dengan nama, Makam Gantung. Keunikannya, tak sedikit para penjiarah yang datang ke makam Bung Karno, menyempatkan diri berjiarah ke makam gantung.
Selain mendoakan tokoh sakti yang makamnya tidak menyentuh tanah ini, mereka sengaja ingin menyaksikan keunikan dari makam itu. Apalagi, jarak makam Bung Karno dengan makam gantung, hanya terpaut sekitar satu kilometer.
Eyang Joyodigo, inilah nama tokoh sakti yang makamnya dibuat ditidak menyentuh tanah. Menurut penuturan juru kunci makam gantung, Biran, 74 tahun, semasa hidupnya, Eyang Joyodigo dikenal sebagai satu-satunya tokoh pada zamannya yang memiliki ilmu Aji Pancasona.
Yakni, ajian yang ketika mati dapat hidup kembali asal jasadnya menyentuh tanah. Karena itu, ketika tokoh ini meninggal diusia senja, kemudian makamnya dibuat tidak menyentuh tanah. Jasadnya dimasukan kedalam peti besi, kemdian disangga dengan empat penyangga yang juga terbuat dari besi.
Karena makamnya tidak menyentuh tanah, walau jasadnya disangga dalam peti besi, masyarakat setempat menyebutnya dengan nama makam gantung. Sedangkan dibawah serta di kiri-kanannya, dimakamkan para keluarga Eyang Joyodigo.
Masih menurut penuturan juru kunci, dalam epos Ramayana, saat itu hanya satu yang memiliki Aji Pancasona. Yakni saudara kembar Sugriwo yang bernama Subali. Keduanya, berasal dari bangs kera.
Namun, karena rayuan Rahwana, kemudian ilmu Aji Pancasona jatuh ke tangah raja dari Ngalengka in. Lalu bagaimana Aji Pancasona bisa dikuasai oleh Eyang Joyodigo?
Menurutnya lagi, semasa hidup, tokoh ini dikenal suka laku tirakat. Berbagai macam ilmu telah dikuasai. Termasuk Aji Pancasona. Bahkan gurunya, tak hanya dari bangsa manusia saja. Tapi ada juga yang berasal dari bangsa lelembut.
Tak heran, jika Eyang Joyodigo bisa menguasai ilmu Aji Pancasona yang pemilik aslinya, tinggal cerita.
“Beliau semasa hidupnya, berguru sosok gaib pemilik pertama Aji Pancasona,” terang juru kunci yang juga mantan tentara PETA.
Lalu siapa sebenarnya Eyang Joyodigo? Sebagaimana yang dituturkan Boiran kepada Misteri, tokoh ini dulunya sahabat dekat Pangeran Diponegoro. Tak hanya sahabat juga, karena Joyodigo juga trah darah biru dari Mataram.
Dan pada tahun 1825, timbul perselisihan antara Belanda dengan Pangeran Diponegoro. Penyebabnya, pihak keraton bagi Diponegoro, terlalu merendahkan martabatnya. Keraton Yogyakarta, seakan-akan berdiri hanya karena kemurahan hati Belanda.
Tak hanya itu, yang membuat darah Diponegoro mendidih. Saat itu, kekuasaan raja-raja ditanah Jawa terus dipersempit. Ada lagi, kekuasaan raja disamakan dengan kedudukan pengawai tinggi pemerintahan Kolonial. Bahkan, pemerintah kolonial terlalu jauh mencampuri urusan keraton dengan cara ikut campur dalam hal pergantian raja.
Lebih menyakitkan lagi bagi Diponegoro, pihak Belanda memungut pajak jalan, ternak, rumah serta hasil bumi kepada rakyat jelata. Karena itu, ketika kompeni membuat tanda tapal batas untuk jalan yang melewati tanah leluhurnya, tanda tapal batas itu langsung dicabut.
Dengan begitu, api peperangan telah tersulut. Selama dalam masa peperangan yang berlangsung lima tahun (1825-1830), salah satu pengikut pangeran Diponegoro yang setia yakni, Joyodigo. Bersama Diponegoro, Joyodigo terus melakukan perlawanan kepada Belanda.
Tak hanya sekali, tokoh sakti ini tertangkap dan dieksekusi mati oleh Belanda. Namun, karena mempunyai Aji Pancasona, begitu jasadnya dibuang oleh Belanda, Joyodigo hidup lagi tanpa sepengetahuan kompeni.
Hingga pada akhirnya, di tahun 1830, Pangeran Diponegoro ditangkap karena siasat licik pihak kompeni. Namun walau Pangeran Diponegoro telah diasingkan ke Makasar setelah tertangkap, bukan berarti darah pejuang Joyodigo padam.
Walau saat pecah perang Pangeran Diponegoro, usianya masih menginjak sekitar 30-an. Ia terus melakukan perang gerilya bersama pengikut Pangeran Diponegoro yang lain. Namun, karena saat itu wilayah Yogyakarta terlalu banyak penjagaan oleh kompeni, Joyodigo memilih perang gerilya menuju arah timur.
Singkat kata, dalam perjalanannya ke arah timur, setiap pos Belanda yang lengah, pasti diserang. Hingga pada akhirnya, sampailah Joyodigyo di wilayah Blitar. Di kota ini, tanpa sepengetahuan pihak penguasa Blitar saat itu, Joyodigo terus melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Merasa wilayahnya aman dari pemerasan kompeni, kemudian Adipati Blitar saat itu, mengirim pasukan telik sandi (intel) untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang telah membuat takut kompeni di wilayah Blitar.
Hingga pada akhirnya, telik sandi yang dikirim oleh sang Adipati, menemukan Joyodigo di sebuah hutan yang masuk Blitar Selatan. Atas perintah Adipati Blitar, telik sandi mengundang Joyodigo untuk datang ke pendopo.
Namun permintaan utusan Adipati Blitar ini ditolak dengan halus. Alasannya, Joyodigo saat itu, masih sibuk melatih laskar untuk mengusir kompeni.
Karena tolakan halus dari Joyodigo ini, kemudian telik sandi langsung pulang dan melapor kepada Adipati. Dua tahun kemudian, Adipati Blitar kembali mengirim utusan. Saat itu, patih di kadipaten Blitar mangkat dan harus segera dicarikan pengganti.
Maksud Adipati mengirim utusan yang kedua, agar Joyodigo bersedia menjadi pati di kadipaten Blitar. Dan karena banyak pihak kompeni yang meninggalkan Blitar lantara serangan gerilya pasukan Joyodigo, tokoh ini bersedia menerima tawaran Adipati Blitar.
Sebagai seorang keturunan darah biru dan pernah tinggal di keraton, ketika diangkat menjadi patih di kadipaten Blitar, Joyodigo sudah tak asing lagi dengan pemerintahan. Patih Joyodigo mampu mengambil kebijakan yang sangat cakap.
Hal inilah yang membuat salut sang Adipati Blitar. Karena kecakapan ini, kemudian sang Adipati memberinya tanah perdikan yang sekarang berada di Jalan Melati kota Blitar. Di tanah perdikan ini, Joyodigo kemudian membangun sebuah rumah besar untuk keluarganya dan diberinya nama, Pesanggerahan Joyodigo.
Rumah yang didirikan oleh Joyodigo in, hingga kini masih berdiri kokoh. Sebagai manusia biasa, walau mempunyai Aji Pancasona, Joyodigo akhirnya wafat pada tahun 1905 diusia seratus tahun lebih.
Karena khawatir akan hidup lagi begitu menyentuh bumi, kemudian oleh para kerabat, makamnya diusahakan agar tidak menyentuh tanah. Jasad Joyodigo dimasukkan kedalam peti besi, dan peti itu kemudian disangga dengan empat tiang yang juga terbuat dari besi seperti yang tampak sekarang ini.
“Di usia yang sudah lebih seratus tahun, kan kasihan kalua Eyang terus menerus hidup lagi setelah meninggal. Karena itu, makamnya dibuat menggantung agar tidak menyentuh tanah. Kalau asal-usulnya ya…seperti yang saya katakan tadi.
Eyang Joyodigo merupakan keturunan darah biru dari Mataram dan pernah menjadi patih di kadipaten Blitar sini. Kalau saudara beliau, mantan bupati Rembang yang juga suami dari RA. Kartini,” terang juru kunci yang telah menjaga makam Eyang Joyodigo lebih dari 20 tahun.
Sebagai makam seorang tokoh sakti pada jamannya, kini makam Eyang Joyodigo pada hari-hari tertentu banyak didatangi oleh para peziarah. Terutama yang datang dari kalangan spiritualis. Beda dengan para peziarah biasa, kaum spiritualis ini datang ke makam Eyang Joyodigo dengan maksud tertentu.
Yakni ingin berguru kepada Eyang Joyodigo dengan cara gaib. Tujuannya, agar mendapat titisan ilmu Aji Pancasona. Menurut juru kunci, hingga kini, tak seorangpun spiritualis yang berhasil mendapatkan titisan ilmu Aji Pancasona dari Eyang Joyodigo.
Jangankan diberi titisan ilmu Aji Pancasona, diberi ilmu yang kesaktiannya dibawah Aji Pancasona saja tidak. Bahkan tak jarang, para spiritualis yang sedang menjalani laku di makam Eyang Joyodigo, justru diusir dengan suara tanpa rupa.
“Apa dikira mudah belajar ilmu Pancasona. Karena salah satu syaratnya yaitu harus bertapa ngalong. Menggantung di pohon dengan kepala dibawah selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa makan dan minum. Yang datang ke sini itu khan Cuma spiritualis masa kini. Mereka bukannya mendapat ilmu, tapi justru diusir,” papar juru kunci dengan tertawa.
Bagi masyarakat Blitar, selain makam sang proklamator, makam Eyang Joyodigo juga dikeramatkan. Sebagai makam yang dikeramatkan, menurut Boiran, makam Eyang Joyodigo dijaga dua sosok gaib berujud dua binatang besar.
Yakni seekor ular sebesar batang pohon kelapa, serta seekor harimau loreng sebesar anak sapi. Menurutnya lagi, tak hanya dirinya saja yang pernah melihat kemunculan dua sosok gaib berujud binatang ini. Karena tak sedikit para penjiarah, khususnya kaum spiritualis, yang melihat kemunculan dua sosok gaib berujud ular dan harimau itu.
Masih menurut Boiran, sebenarnya dua sosok gaib penjaga makam ini, dulunya merupakan pengawal pribadi Eyang Joyodigo semasa hidup yang berasal dari bangsa lelembut berujud binatang.
Karena kesetiaannya kepada majikan, hingga Eyang Joyodigo wafat, kedua sosok gaib itu masih setia menunggui makam majikannya.
»»  READMORE...

Kenapa “Kelamin Lekat” Saat Bersetubuh Di Atas Kuburan (Gancet)

Di film terbaru Jupe alias Julia Perez yang berjudul “Kutukan Arwah Gancet” membahas perihal pengertian kejadian mistis dimana sepasang manusia berlainan jenis yang tidak bisa lepas alat kelaminnya akibat berhubungan badan diatas kuburan. Bagi sebagian orang mungkin sudah familiar, tapi ternyata masih banyak juga yang baru pertama kali mendengar istilah “Gancet” ini.



Fenomena Gancet, benarkah akibat kutukan penghuni kubur hingga alat kelamin tidak bisa lepas

Ada yang mengartikan, gancet adalah kondisi dimana ketika Mr.P tidak bisa keluar dari Mrs.V saat berhubungan badan. Dengan kata lain, Mr.P “terkunci” di dalam Mrs.V. Terdapat dua kaca mata yang bisa dipakai untuk menelusuri hal ini. Masyarakat kebanyakan, terlebih di daerah, biasanya lebih sering menggunakan kaca mata mitos, bahkan mistis. Tapi kalau mau lebih bermain logika, dunia medis juga punya penjelasan rinci.

Ini ilustrasi kisah mistisnya. Ada sebuah cerita seperti ini. Di sebuah desa didapati dua pasang remaja tak bisa melepaskan kemaluannya usai melakukan hubungan intim di sebuah komplek pemakaman. Dengan menahan malu dan sakit, dua pasangan itu dibawa rumah sakit terdekat untuk bisa dipisahkan. Cerita lengkapnya seks gancet bisa dilihat disini

Penduduk sekitar menganggap dua pasang remaja tadi telah mendapat hukuman karena melakukan hal kotor di tempat yang dikramatkan. Mereka yakin, makhluk halus penunggu lokasi tersebut marah, hingga akhirnya memberi kutukan gancet pada mereka. Ini kalau dilihat dari sudut pandang mistis.

Namun bagaimanakan penjelasan dari kacamata medisnya. Dalam dunia kedokteran, gancet dikenal dengan Istilah vaginismus. Istilah ini masih cukup asing di telinga masyarakat. Padahal, tidak sedikit wanita yang menderita karena mengalami disfungsi seksual ini.

Paling sedikit ada dua alasan mengapa disfungsi seksual ini nyaris tidak pernah disebut. Pertama, istilah ini memang sangat khusus untuk suatu disfungsi seksual sehingga bahkan kalangan dokter pun ada yang tak mengetahui soal gancet. Kedua, wanita yang mengalaminya enggan mengungkapkan masalahnya.

Apa pengertian vaginismus?

Vaginismus ialah suatu disfungsi seksual pada wanita yang berupa kekejangan abnormal otot vagina sepertiga bagian luar dan sekitar vagina. Derajat kekejangan yang terjadi tidak sama pada setiap orang yang mengalami
vaginismus.

Kekejangan abnormal yang terjadi pada vaginismus seakan-akan merupakan suatu reaksi penolakan terhadap hubungan seksual, bahkan terhadap setiap sentuhan pada kelamin. Reaksi penolakan tampak jelas dari luar karena wanita dengan vaginismus cenderung merapatkan kedua tungkainya bila terjadi sentuhan pada bagian kelamin. Diduga sekitar 2-3% wanita dewasa mengalami vaginismus.

Apa penyebabnya?

Vaginismus dapat disebabkan oleh faktor fisik ataupun psikis. Beberapa faktor fisik ialah:

• Gangguan selaput dara, termasuk sisanya yang tertarik kalau terjadi penetrasi penis.
• Infeksi yang menimbulkan luka di sekitar lubang vagina atau labia.
• Bekas robekan karena melahirkan yang tidak sembuh dengan baik.

Tetapi penyebab psikis lebih sering berperan untuk terjadinya vaginismus.Beberapa sebab psikis adalah:

• Latar belakang keluarga yang memandang seks sebagai sesuatu yang kotor, dosa atau memalukan. Jadi wanita itu dibesarkan dengan anggapan bahwa seks adalah sesuatu yang negatif.

• Pengalaman seksual yang traumatik, misalnya wanita yang mengalami perkosaan baik pada masa anak-anak, remaja maupun dewasa. Kalau pengalaman yang mengerikan itu terjadi setelah wanita menikah, dapat juga terjadi
vaginismus sekunder.

• Hubungan seksual yang selalu menimbulkan rasa nyeri karena sebab psikis. Disfungsi ereksi juga dapat menjadi penyebab.

• Rasa takut yang berlebihan akan terjadinya kehamilan.

• Rasa takut terkena penyakit kelamin.

Apa akibatnya?

Akibat kekejangan otot vagina sepertiga bagian luar, maka hubungan seksual tidak dapat berlangsung. Bahkan penis terasa seperti membentur sebuah penahan yang seolah-olah menutup bagian lubang vagina. Andaikata penetrasi penis dapat dilakukan, itu pun tidak sempurna dan menimbulkan rasa sakit yang hebat. Bila dipaksakan, tentu akan sangat menyiksa.
»»  READMORE...